Singingi Hilir, Kabarkuansing.com,- Stereotip seorang petani di kalangan anak muda mungkin masih terkesan tidak modern. Hal ini karena petani sering diindetikkan dengan kerja lapangan dan penghasilan yang dianggap tidak pasti. Namun, seorang Ibu paruh baya yang saya temui di tepi jalan perusahaan perkebunan kelapa sawit itu menampik stereotip yang menggema di luar sana.

Namanya Ibu Miliana Aritonang. Ia seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang saat ini juga menyiapkan anaknya untuk wisuda di tahun ini. Saya disambut dengan baik oleh Ibu Miliana dan Ibu Roma pada saat melintas di jalur pertanian milik perusahaan pada Senin (10/07/23). Disana dua wanita tangguh itu tengah mencabuti gulma. Saya pun melewati medan pertanian untuk menghampiri keduanya. Medan pertanian itu bersebelahan dengan kolam-kolam limbah hasil pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

Ibu Miliana dengan semangatnya menceritakan pada saya mengenai kehidupannya sebagai seorang petani di tengah-tengah industri perkebunan kelapa sawit. “Lahan pertanian di sini lumayan luas untuk masyarakat bertani. Dan, cukup membantu untuk kesejahteraan kehidupan masyarakat di sekitar,” ungkapnya sambil beranjak untuk mengumpulkan benih bayam.

Ada petak pertanian yang ditanami oleh beragam jenis sayur oleh Ibu Miliana dan Ibu Roma. Diantaranya terdapat kangkung, cabai, dan rumput gajah. Pada kunjungan itu saya diajak melihat tanaman bayam hijau dan bayam merah. “Ada PT Surya Agrolika Reksa yang bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk pengelolaan lahan pertanian. Jadi lahan yang kami kelola kami urus sendiri, perusahaan mengizinkan lahan ini kami kelola,” lanjut Ibu Miliana.

Ibu Roma turut menjelaskan jika perusahaan sudah memberikan bantuan berupa benih untuk ditanam pada petani sekitar. “Perusahaan termasuk baik dan tidak mengganggu kerja dari kami. Kami juga enggak ada ganggu perusahaan. Jadi saling mengerti saja, intinya sama-sama cari makan,” ungkap Ibu Roma  ketika saya mengkonfirmasi hubungan masyarakat dan perusahaan.

Salah satu hal menarik dari pertemuan saya dengan kedua Ibu itu ialah bagaimana mereka tetap gigih bertani di tengah-tengah gempuran tawaran perkebunan kelapa sawit yang konon katanya lebih menjanjikan. Hal ini juga diperkuat karena wilayah mereka yang berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit.

Ibu Meliana menambahkan, “Anak saya jurusan Pariwisata di Universitas Riau dan bulan ini rencananya mau wisuda.” Mendengar ungkapan itu saya turut bahagia. Karena usaha menanam sayur dan membudidayakannya menjadikan Ibu Miliana dan Ibu Roma mengalami peningkatan kesejahteraan hidup.

Namun keredupan mata beliau saya dapati ketika beliau mengungkapkan harapan pembentukan kelompok tani. Beliau menjabarkan jika sekitar lima tahun yang lalu rencana pembentukan sudah hampir terwujud, namun hingga di tahun ini rencana itu belum terealisasikan. Sehingga, hal ini menghambat petani dalam menyampaikan aspirasi dan bantuan meteril seperti penyediaan pupuk, pelatihan keterampilan, dan bantuan lainnya.

Perusahaan memberikan keterangan bahwa pembenaran akan adanya pembentukan petani itu memang sudah terdengar pada lima tahun yang lalu. Namun hingga saat ini belum diketahui apakah kelompok tani sudah terbentuk? Apabila tidak ada kelompok tani maka jalan komunikasi antar petani sayur dan perusahaan setempat dapat terhambat.

Namun, usaha perusahaan untuk menyediakan lahan agar dikelola masyarakat menjadi hal yang Ibu Miliana dan rekannya syukuri. Karena dengan demikian, masyarakat sekitar mendapatkan dampak yang baik dari adanya perusahaan di kawasan sekitar mereka. Limbah yang ada pun terkelola dengan baik dan tidak mengganggu keberlangsungan tanaman mereka. 

Penulis: Anisa Trisari
Lebih baru Lebih lama